Yogyakarta, 6 November 2010, 30 kilometer dari puncak Merapi.

“Bencana” yang indah! Aktivitas vulkanik Gunung Merapi bukan bencana!

Kenapa disebut bencana? Apakah semestinya Gunung Merapi yang memuntahkan lahar itu disebut bencana? Bukankah hal itu sudah diketahui semua orang bahwa secara berkala ia akan “berbuat” seperti itu? Lalu kenapa ketika ia benar-benar melakukannya kemudian disebut bencana?

Ada seorang anak SD selalu minta uang saku Rp.5.000,- kepada orang tuanya ketika berangkat ke sekolah, itu sudah kebiasaan yang diketahui dan “disetujui” pihak orang tua dan anak.Ketika esok pagi anak itu minta uang saku Rp.5.000,- untuk berangkat ke sekolah, apakah itu suatu bencana sedang terjadi?

Apakah gunung Merapi berjalan mendekati perkampungan penduduk? Apakah baru sekali ini ia melakukan aktivitas vulkaniknya itu? Apakah ia melakukannya tiba-tiba tanpa memberi tanda-tanda? Apakah manusia tidak tahu apa yang harus dilakukannya ketika Merapi sedang melakukan kebiasaannya tersebut? Kalau jawabannya tidak, lalu siapa yang latah menyebut kejadian letusan Merapi ini sebagai bencana? Bukankan Merapi sudah melakukan kebiasaannya itu sejak jaman ketika bahkan pulau ini belum berpenghuni sekalipun?

Merapi termasuk Gunung berAPI

Baiklah kita lihat secara obyektif; Merapi memberikan kesuburan paling prima bagi setiap jengkal tanah dalam lingkarnya, itulah sepertinya mengapa ribuan orang mengerumuni lereng Merapi, demi hasil tanah yang diberikan bumi. Setiap tahunnya; berapa ribu ternak telah dihidupi oleh rumput Merapi? Berapa ribu jiwa hidup dari berkah yang diberikan Merapi melalui tongkat kayu yang jadi tanaman? Berapa ribu kilometer badan jalan telah dibangun dengan pasir dan batu dari Merapi. Berapa juta rumah dan bangunan telah berdiri dari pasir dan batu dariMerapi? Berapa juta orang yang telah tinggal nyaman di dalam rumah-rumah itu?Tentunya mereka tidak perlu lupa atas semua kebaikan yang diberikan gunung yang eksotis ini.

Kita berjalan-jalan (berjalan kaki, dengan sepeda motor, ataupun mobil) di sepanjang kota Yogyakarta, menikmati aspal yang halus setiap meter perseginya setiap hari selama bertahun-tahun, kita sering lupa dari mana pasir dan batu untuk mengeraskan badan jalan itu. Giliran semua jalan aspal itu tertutup abu (yang dari Merapi juga), hati kita mengumpat, “Betapa menjengkelkannya debu ini!”.

Ini seperti halnya memakai Windows dan software bajakan! Mau produktivitasnya tapi tidak mau bayarnya! Bahkan kita sering mengumpat juga kalau Windows kita kena virus atau software lainnya hang! Wah, sudah ga bayar, masih menyalahkan lagi… hmmm…! Singkatnya; mau sisi menguntungkannya, menganggap sisi “tidak mengenakkan”nya sebagai bencana. Bukankah pasir, batu, ataupun abu itu semua dari Merapi yang sama? Bahkan abu itu pun tidak mutlak menjengkelkan dan membuat sakit, tapi juga menyuburkan! Hmmm… jadi hampir semuanya baik khan? Lalu dari mana datangnya frasa “Bencana Merapi” itu?

Kita yang tinggal di berbagai wilayah di Kalimantan atau Sumatera atau tempat lain pasti mengerti hal ini lebih baik, ketika di suatu wilayah tidak ada gunung, batu dan pasir sangat sulit didapat, banyak badan jalan hanya “terbuat” dari tanah yang sangat berat untuk dilalui terutama ketika musim hujan. Selama Indonesia merdeka demikian jugalah jalan yang mereka lalui, karena begitu sulitnya bagi pemerintah dan masyarakat untuk membangun jalan yang layak, karena ketiadaan atau kekurangan material batu dan pasir!

Hari ini, di salah satu stasiun TV dituliskan judul berita “Merapi masih mengancam!”; Astaga…! Mengancam? Mengancam siapa? Mengancam bagaimana? Apakah anak kita yang minta uang saku untuk sekolah itu merupakan ancaman?Bukankan lebih menyejukkan jika diganti “Merapi masih mau memberi!”. Karena nyatanya Merapi ini memang hanya memberi dan memberi bagi lingkungan di sekitarnya, seperti kasih ibu dalam lagu itu. Pernahkah ia meminta? Minta apa? Sesaji? Massa iya? Atau minta dikultuskan malah? Wah…. Lebay!

Hmm… OK lah, kita coba lihat dari posisi “korban”. Mungkin yang kita maksudkan sebagai “bencana” itu adalah bencana terhadap “comfort zone”, situasi dan kondisi serta posisi nyaman kita! Nyaman karena kita berpikir bahwa kita bisa tinggal di lereng Merapi yang kaya, subur, dan sejuk tanpa perlu menyingkir sebentar ketika Merapi sedang menggeliat. Bahkan kalau boleh kita bisa tinggal di sekitar kawah Merapi di kilometer nol dan kita bisa perintahkan Merapi setiap hari untuk tetap diam selama kita mau, serta meletus ke arah orang-orang yang tidak kita sukai di waktu yang kita tentukan! Dan ketika yang kita harapkan seperti itu tidak menjadi kenyataan, dan Merapi tetap melakukan aktivitas vulkaniknya seperti biasa, maka kemudian kita menyebutnya sebagai “bencana alam” yang terjemahannya adalah “Ternyata alam punya hukum sendiri dan tidak mau menuruti keinginan kita!”.

Bedakan antara Gunung BerApi dengan Gunung BerASI

Kemudian serta-merta lah sebagian dari kita meminta kepada Tuhan (Tuhannya masing-masing) mbok ya-o “bencana” Merapi ini segera berhenti. Lho.. mungkin Dia sedang dalam rangka memberi koq malah dimita menghentikan, bagaimana sih?

Hmm, sepertinya kita yang berdoa seperti itu ingin kembali ke comfort zone sesegera mungkin, dalam arti mbok ya Tuhan itu kasih material pasir dan batu untuk bangunan serta abu untuk kesuburan tapi dengan cara yang enak gitu loh Tuhan, mungkin dikirim lewat pos saja ke rumah masing-masing anggota masyarakat gitu loh.. jangan pake ngotori rumah dan mobil kita dengan abu, jangan dengan awan panas atau lahar dingin… pokoknya seperti yang kita mau gitu loh Tuhan! Wah…! Tuhan apa pembantu nih? Apakah tidak cukup Dia memberi kita tanda-tanda alam serta akal budi yang sedemikian maju untuk bisa tetap eksis dan survive terhadap kekuatan-kekuatan alam seperti Merapi itu?

Bahkan alam pun sedemikian baiknya bagi kita sore hari ini.Setelah beberapa hari kemarin memberi kota Yogyakarta dengan hujan abu, maka hari ini pun ia masih sangat berbaik hati memberikan hujan air yang cukup lebat untuk kota ini. Nampaknya alam mau membersihkan rumah-rumah kita dan jalan-jalan di kota ini supaya kita yang angkuh ini bisa segera nyaman menjalani hidup dan melakukan rutinitas kerja dan dosa kembali (Perhaps!).

Dari banyaknya “pengungsi” yang harus dilayani, kita melihat betapa banyaknya relawan yang turut terlibat, sumbangan yang mengalir secara swadaya dari masyarakat, bahkan ada yang menyumbang dan mengumpulkan nasi bungkus untuk mereka, relawan yang bekerja dengan gigih ke daerah bahaya, para petugas yang bekerja dengan giat mengatur segala sesuatu supaya aman dan lancar serta sejenak melupakan pungutan-pungutan “keamanan”, bukankah semuanya ini menyentuh dan indah? Berkembangnya studi terhadap penanganan Merapi dan antisipasi serta penanggulangannya, meningkatnya rasa solidaritas dan kesatuan masyarakat, tumbuh dan bangkitnya kembali semangat tolong-menolong serta gotong royong, serta banyak hal lainnya, bukankah semuanya ini BAIK adanya?

Lalu mengapa masih ada yang “ngeyel” menyebut semua ini sebagai “bencana”? Bukankah korupsi, anggaran jalan-jalan ke luar negeri oleh anggota dHewan (maaf salah ketik!), termasuk ketua dHewan yang mengatakan anggota dHewan tidak perlu pergi ke lokasi bencana (tetapi lebih baik menonton tari perut di luar negeri), fanatisme dan konflik bernuansa keagamaan (agama-agama import semua), serta kebodohan dalam segala bentuk dan manifestasinya, itu lebih merupakan bencana yang nyata bagi kehidupan dan kemanusiaan di negeri ini, sekarang dan di masa yang akan datang?

Aktivitas vulkanik Gunung Merapi bukan bencana! Merapi hanya sedang memenuhi “janji” atau “tugas”nya untuk memberikan berbagai hal yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya, seperti halnya garam yang memberi rasa asin pada sayuran, seperti sebatang lilin yang memberi terang bagi tempat yang gelap. Merapi tak pernah ingkar janji!

NB: Turut berbela sungkawa terhadap jatuhnya korban jiwa dan luka karena belum sempat menyingkir cukup jauh dari Merapi, tidak termasuk buat mereka yang sombong berniat untuk tidak menyingkir ketika Merapi sidang sibuk melakukan aktivitas vulkaniknya.