PENIPU ITU…

Ini juga kisah tentang penipu.

Detail cerita saya sudah agak lupa, tetapi kira-kira seperti berikut ini…

Seseorang yang akan menjual tanah di Salatiga, mengiklankan tanahnya. Tanahnya lumayan luas, dengan harga penawaran lebih dari 1 Milyar rupiah.

Datanglah telepon dari seseorang yang MENGAKU utusan dari sebuah keluarga (boss) di Malaysia, yang sedang mencari tanah, untuk dijadikan tempat usaha bagi salah satu satu anggota keluarganya. Penelepon menyatakan kesediaannya membeli tanah itu, dan untuk memastikan persetujuan keluarga ‘boss’ dari Malaysia, dibuatlah janji pertemuan di Hotel Novotel, SOLO.

Janji ketemuan di Novotel jam 9 malam, itu kira-kira 2 jam lagi sejak janji itu dibuat, dan diminta tidak terlambat datang, sebab “boss” dari Malaysia itu suka tepat waktu. (Ingat.. perjalanan Salatiga-Solo, normal, sekitar 2 jam).

Jelas, sebuah perjalanan yang “tergesa-gesa” untuk mengejar jam pertemuan, karena perlu mempersiapkan beberapa hal, untuk berangkat, termasuk menghubungi rental mobil. Singkat cerita, dengan “ngebut” ke Solo, bertemulah mereka di Lobby hotel Novotel. Pertemuan SINGKAT malam itu berakhir dengan janji pertemuan kedua besok paginya, jam 6 pagi, di tempat yang sama. Intinya, sepakat membeli tanah dengan harga tertentu, dan pembayaran akan dilakukan besok.

Sebenarnya, kalau sudah biasa jual-beli tanah, pembicaraan malam itu sudah janggal, karena pihak calon pembeli tidak menanyakan detail identitas tanah, beserta langkah-langkah transaksi selanjutnya, misalnya mau pakai notaris siapa, pajak penjualan dan pembelian mau ditanggung siapa, dan sebagainya. Calon pembeli berlagak seperti orang kaya, yang tidak peduli dengan rincian detail-detail dalam transaksi jual-beli tanah.

Besok paginya, dengan harapan besar bahwa tanahnya akan laku, penjual tanah berangkat lagi ke Solo dan jam 6 pagi sudah sampai di Novotel. Pertanyaan pertama dari pihak calon pembeli adalah “ke sini naik apa?” Sebuah pertanyaan yang tidak penting, namun menjadi sangat penting bagi “calon pembeli” itu. (Penjual tanah diantar sopir yang juga mengantarnya tadi malam). Penjual diajak masuk ke sebuah kamar (berbeda dengan tadi malam yang hanya di lobby). Dan ternyata mereka bertemu di kamar “sangat lama”.

Setelah cukup lama sopir menunggu, kemudian penjual (suami-istri) keluar kamar dan mengajak sopir menuju bank untuk menyetorkan sejumlah uang (lebih dari 100 juta) ke rekening tertentu. Dari sini cerita mulai terungkap.

Ternyata.. ketika pertemuan di dalam kamar, penjual (suami-istri), diberitahu, kalau terpaksa tanahnya belum bisa dibayar, karena si “boss” tadi malam kalah judi sekitar Rp3 milyar rupiah. Si “boss” memutuskan untuk membalas kekalahannya itu dengan judi lagi dan yakin akan menang, karena diberitahu, bahwa tadi malam si “boss” telah dicurangi dalam permainannya.

Untuk meyakinkan bahwa si boss akan menang, saat itu dilakukan “simulasi” judi, dengan antara lain penjual tanah diajari bermain, dan menjadi salah satu pemain dalam simulasi itu. Untuk lebih meyakinkan penjual tanah, saat itu dipanggilkan (ditelponkan), seorang teman yang KATANYA mantan bandar judi, yang sangat paham seluk beluk permainan judi, diminta mengajari mereka semua.

Sebelum simulasi permainan itu, sebenarnya ada satu tahap, dimana terjadi (sandiwara) “pertentangan” antara si “boss” dengan orang kepercayaannya, yang intinya si boss ingin judi lagi, namun ditentang oleh orang kepercayaannya, si boss tampak “marah” dan menantang membuat simulasi judi, untuk meyakinkann bahwa dia akan menang nanti malam.

Penjual tanah diyakinkan bahwa tanahnya akan dibayar setelah nanti “si boss” menang judi, dan karena si boss butuh tambahan modal untuk berjudi, maka antara lain, selain iuran beberapa orang (orang kepercayaannya, dan juga “mantan bandar” yang diajak itu), termasuk butuh tambahan modal dari penjual tanah.

Sampai di sini, penjual tanah seperti terhipnotis, menuruti saja kemauan “komplotan” itu. Hingga kemudian keluar kamar untuk mengajak sopir mengantar ke bank.

Dalam ceritanya, si istri penjual tanah, ketika di lobby bertemu sopir, langsung sadar, “ini tidak benar”, tetapi suaminya masih yakin dengan rencana menyetor uang untuk tambahan modal main ‘calon pembeli tanah’. Terjadilah diskusi di dalam mobil dalam perjalanan menuju bank, termasuk dengan sopir mobil yang juga menjelaskan beberapa hal tentang transaksi jual beli tanah, (kebetulan sopir ini paham soal transaksi jual-beli tanah), dan mereka tidak jadi ke bank, melainkan ke rumah makan untuk mendiskusikan “kisah” mereka. Penjual tanah itu tidak jadi tertipu.

Mendengar cerita itu semua, saya menganalisis modus penipuan tersebut.

1. ‘calon pembeli’ sengaja memberi waktu janjian yang “mendesak”, jika dengan janjian yang mendesak itu, penjual bisa memenuhi janji, artinya penjual tanah “bisa dikendalikan”

2. calon penjual berlagak sebagai orang kaya, yang “menganggap mudah semua urusan”, dan ini bagi sebagian orang menjadi ‘daya tarik’, karena bisa berpikir, “mereka benar-benar kaya, tidak ada masalah keuangan”, tetapi bagi yang waspada, justru orang-orang yang “suka bergaya” itu yang patut dicurigai berniat tidak baik.

3. ketika datang di janji pertemuan kedua, ada pertanyaan, “kesini naik apa?”, itu untuk mencari tahu, apakah mereka (penjual tanah) datang sendiri, atau diantar sopir. Jika datang sendiri, ketika mereka mau masuk kamar, bisa saja disekap, kemudian mobilnya diambil. Kalau datang dengan sopir, tentu hal itu tidak akan dilakukan, karena kalau sampai lama tidak keluar kamar, sopir tentu akan curiga.

4. entah hanya mempermainkan ’emosi’ atau mereka memang memiliki “ilmu gendam”, komplotan itu bisa mengendalikan calon korban untuk menuruti kemauan mereka.

===

Ada tips supaya tidak bisa digendam: jika anda memakai kaus singlet (kaus dalam), puntirlah tali kaus yang anda kenakan, niscaya, gendam tidak akan mengendalikan anda. Boleh percaya boleh tidak…

Anda juga bisa mengandalkan “iman kepada Tuhan” untuk melawan gendam, tetapi saya punya teman yang juga “beriman”, bisa habis belasan juta rupiah karena digendam.

===

Beberapa tahun yang lalu, saya juga pernah diminta tolong oleh seorang teman, untuk mencari tahu sebuah “modus penipuan” yang melibatkan “proyek investasi” dan “orang-orang penting”. Saya mencari alamat dan menemui satu orang di Jogjakarta dan satu orang di Boyolali, yang disebut-sebut sebagai “orang penting” itu, dan dengan mendengarkan pembicaraan mereka mengenai “proyek” yang dijanjikan, dan juga “gaya” mereka ketika berbincang dengan saya, saya mengambil kesimpulan, bahwa mereka semua itu memang PENIPU. Sayang, “klien” teman saya itu sudah berkorban puluhan, mungkin ratusan juta untuk “proyek” fiktif itu.

PENIPU makin canggih… dan mereka selalu ada, karena selalu ada orang yang bisa ditipu.

Waspadalah… waspadalah….

Catatan akhir:

*buat yang masih ‘single’, waspadalah pada egoisme yang dibalut dengan kata “cinta”, *buat yang cari pekerjaan, hati-hati dengan tipuan lowongan kerja,

*buat yang ‘bermain’ keris, hati-hati dengan tipuan keris “kamardikan” dikatakan keris “sepuh”, atau keris souvenir dibilang keris bertuah,

*buat yang “bermain” burung, hati-hati dengan tipuan burung betina dikatakan jantan,

*buat yang mau beli motor/mobil bekas, hati-hati dengan tipuan “ini barang istimewa, punyaan kakak saya, punyaan adik saya, punyaan saudara saya….”

*buat yang suka barang elektronik, hati-hati dengan tipuan “barang black market”

dan

*buat yang beragama, hati-hati dengan tipuan doktrin dan dogma….

hahaha….

(jangan lupa juga, hati-hati pada tipuan nama-nama PALSU di facebook)

by Petrus Wijayanto on Friday, May 27, 2011 at 10:41pm