02 Mei 2014

Long time no write; kali ini penulis ingin menyampaikan kritik terhadap motor Honda Vario Techno 125 Helm-in AT. Wah panjang sekali namanya ya, masih kurang panjang juga kalau ditambahi kata “Combi Brake System – Idling Stop System”, mungkin jadi nama kendaraan paling panjang di dunia tuh.

Honda Vario Techno 125 Non CBS Non ISS Non AHO

Honda Vario Techno 125cc – Helmin AT – PGMFI – Non CBS – Non ISS – Non AHO

Kritik ini bisa juga dianggap sebagai surat terbuka, semoga dibaca oleh pihak Honda untuk perbaikan ke depannya, dan juga bagi pembaca terutama yang ingin meminang motor jenis ini supaya tahu lebih banyak sebelum membeli.

April 2014 ini penulis mencari motor tersebut di berbagai dealer di Yogyakarta untuk mencari tipe yang NON CBS (Combi Brake System). Ternyata yang diproduksi AHM sekarang tidak ada lagi yang NON CBS, melainkan hanya dua tipe saja yaitu CBS ISS (Idling Stop System), dan CBS Non ISS. Penulis “ngebet” untuk mencari stock lama yang NON CBS, karena dari pengalaman, fitur CBS ini menurut penulis lebih terasa mengganggu daripada membantu.

CBS terasa mengganggu karena pertama, pengereman dengan tangan kiri menjadi lebih berat. Kedua, metode parking brake lock nya menjadi buruk karena tidak bisa dioprasikan dengan satu tangan. Ketiga, ketika melakukan rem depan maka tuas rem belakang akan ada tambahan tertarik masuk sehingga mengganggu konsentrasi dan feeling pengereman. Keempat, kadang penulis hanya butuh mengoperasikan rem belakang saja seperti ketika melewati polisi tidur pada kecepatan sangat rendah. Kelima, system CBS ini mematikan feeling pengereman yang baik yaitu menggunakan rem depan dan belakang bersamaan dengan pembagian kekuatan secara intuitif.

Secara ilmu fisika, justru rem depan harus lebih kuat daripada rem belakang karena pada saat deselerasi/pengereman gaya dorong akan terfokus di roda depan. Lihat saja contoh benarnya di motor besar, roda depan dipasangi hingga dua piringan, kanan dan kiri, bahkan dengan ukuran besar-besar, sementara roda belakang single disc saja dan lebih kecil. Akan tetapi system CBS dari Honda Vario 125 ini (juga Honda matic lainnya) pembagiannya malah lebih kuat pengereman roda belakang daripada roda depan (70% : 30%), tidak masuk akal kan?

Dalam buku petunjuk pemakaian dan sticker yang tertempel di body pun diperintahkan untuk selalu mengerem menggunakan kedua tangan, rem depan dan rem belakang secara bersamaan; lalu kemudian apa gunanya dibuat CBS kalau toh kita harus selalu mengerem menggunakan kedua tangan? ANEH KAN?

Jadi intinya penulis tidak membutuhkan fitur Combi Brake, disamping untuk tipe Non CBS memang harganya lebih murah. Pikir penulis, untuk apa membayar lebih mahal untuk fitur yang tidak akan dipakai atau mengganggu?

Untuk fitur Idling Stop System (ISS) sebenarnya bagus, akan tetapi sayangnya tidak ada produksi AHM yang Non CBS tetapi ISS, kalau ada pasti penulis memilih tipe tersebut. Sebenarnya fungsi ISS yang cukup mahal aplikasinya ini bisa setara fungsi dan kegunaannya dengan tombol Stop Engine, yang tentu saja hanya puluhan ribu rupiah saja biaya produksinya. Tetapi seperti biasa, demi penghematan (baca: demi keuntungan yang lebih besar), jangankan memberikan tombol engine stop, versi sport yang keluaran lama ada tombol engine stop saja malah dihilangkan di edisi baru, contoh Mega Pro.

Baiklah, akhirnya, singkat cerita, dengan sedikit perjuangan, didapatkanlah satu-satunya Honda Vario 125 stock terakhir yang NON CBS (sisa stock 2013) seperti foto di atas.

To the point saja, berikut beberapa kritik penulis terhadap motor ini, dalam arti kritik secara teknis. Penulis tidak membahas mengenai desain yang juga ada kelemahan di sana-sini seperti lebar lampu depan yang terlalu lebar sehingga sering kejadian pecah karena menabrak, knalpot yang terlalu panjang sehingga sering nyangkut di pojokan pintu, juga desain ruang kaki dimana lutut sering mentok ke bodi depan bagi rider yang tinggi (penulis 180 cm), dll.

1. Celah pada “begel” (pegangan pembonceng dengan bodi) beda antara kanan dan kiri.

Celah pada "begel" kanan dan kiri berbeda

Celah pada “begel” kanan dan kiri berbeda, perhatikan tanda panah.

Bahasa kasarnya “WTF?” Dari dulu penulis lebih sering memilih motor merk Honda, karena menurut pengamatan penulis Honda sedikit lebih baik dalam memperhatikan detail. Tapi apa yang terjadi sekarang? Lihat celah begel seperti gambar di atas, yang satu lebih lebar dari satunya. Kalau motor ini diproduksi sejak 2012 kenapa dibiarkan saja hingga produksi sekarang? Kenapa tidak diperbaiki pada seri seri baru? Memalukan sebenarnya. Hellooo…. Honda!

2. Grip yang kurang lebar. Grip handle motor ini jelas kurang lebar untuk rata-rata pemakai pria dewasa, jadi mengingatkan motor merk Yamaha yang dari dulu sering sekali mempunyai masalah klasik seperti ini.

Perhatikan gambar dibawah ketika handle dipegang secara normal dengan posisi ibu jari yang natural atau tidak dipaksakan untuk mepet.

Telapak tangan menimpa batas grip

Telapak tangan menimpa batas grip

Terlihat dan terasa telapak tangan menimpa batas grip, ini tidak nyaman dan mengganggu (belum lagi kalau memakai sarung tangan yang tebal). Dari pengalaman penulis memakai berbagai motor Honda, ini bukti Honda tidak cermat lagi dalam hal detail.

Secara teknis jelas sangat memungkinkan untuk menambah lebar grip ke arah dalam sepanjang masing-masing 2 cm grip kanan dan kiri, tentu saja dengan perubahan desain batok penutup setang/speedometer; kecuali memang AHM hanya copy-paste saja dari produksi Honda Click Thailand, tanpa mempunyai divisi RND sendiri (Hmm… Mungkin AHM trauma dengan pengalaman memiliki RND mandiri dulu yang meluncurkan Honda CS1 malah kemudian jadi produk gagal). Atau kalau mau lebih mudah, panjangkan saja batang setang ke arah luar sampai batas stabilizer setang tersebut, dan stabilizer setang pakai model internal saja seperti pada honda Spacy, sehingga grip bisa tambah lebar sekitar 2 cm; mudah kan?

3. Dudukan spion kanan dan kiri tidak sama tinggi. Sekali lagi mestinya Honda dengan keuntungan ratusan triliun rupiah per tahun mampu untuk membayar staf RND yang lebih teliti lagi. Meskipun tidak terlalu mengganggu atau berdampak pada keselamatan tetapi jelas mengurangi estetika, akan terlihat beda tinggi kalau dipasang produk spion after market.

Dudukan spion kanan

Dudukan spion kanan

Dudukan spion kiri

Dudukan spion kiri

Dudukan spion kiri lebih tinggi daripada yang kanan. You can make it better, Honda!

4. Ayolah, beri versi Rear Disc Brake. Sebenarnya penulis menunda untuk membeli motor matic menunggu inovasi dari pabrikan mana yang mengeluarkan versi rem belakang cakram. Akan tetapi keburu perlu setelah ditunggu lama tidak ada juga pabrikan yang berani memulai inovasi RDB pada motor matic di Indonesia, padahal secara teknis itu bisa dibuat dan pastinya cukup mudah untuk pabrikan sekelas Honda. Dengan RDB tentu pengereman akan lebih pakem, dan tenaga yang dikeluarkan untuk mengerem juga lebih ringan, dengan kata lain akan meningkatkan safety. Dibanding SupraX misalnya, dimana pengereman roda belakang yang memakai kaki (asumsinya tenaga pengereman lebih kuat daripada tangan), itu saja dibuatkan rear disc brake. Ini vario yang pengereman menggunakan tangan mestinya juga dibuatkan rear disc brake, kalau perlu dengan diameter yang lebih besar supaya lebih pakem dan tenaga pengereman kecil. Terasa betul bedanya menggunakan motor dengan RDB dibanding dengan Vario ini, karena model teromol plus menggunakan tangan maka pengereman roda belakang jelas terasa kurang power terutama untuk pemakai perempuan yang notabene kekuatan jarinya tidak akan sekuat jari pria.

Pasang disc brake di sini Plz.

Pasang disc brake di sini Plz!

Berikut adalah gambar contoh aplikasi Rear Disc Brake pada sekuter Aprilia RS50 (kapasitas mesin hanya 50 cc tetapi memakai RDB demi peningkatan keamanan berkendara; versi Aprilia ini juga mengaplikasi switch stop engine dan tubeless tire loh):

RDB scooter Aprilia

Contoh aplikasi Rear Disc Brake pada sekuter Aprilia RS50

Ditambah lagi, seandainya rem belakang mengaplikasi cakram hidrolik seperti roda depan, maka fitur Combi Brake System akan lebih mudah aplikasinya, tinggal menggabungkan selang hidrolik rem depan dan belakang, serta akan lebih menguntungkan pengendara dalam arti tidak berat dan juga pakem.

Akan tetapi sepertinya ini adalah hal biasa yaitu prinsip ekonomi, kalau dibuat begitu saja sudah laris, untuk apa dibuat lebih baik? Ya, terserah memang, penulis sebagai konsumen hanya menyampaikan kritik/masukan dan keinginan untuk mendapatkan yang lebih baik.

5. Standard samping terlalu pendek, sehingga posisi motor terlalu miring pada lantai yang rata, sehingga keseluruhan posisi motor akan terlalu makan tempat bila parkir di tempat umum. Ditambah lagi masalah jika harus parkir di tempat yang miring ke kiri, posisi motor akan sangat terlalu miring. Solusi dari penulis adalah mengganti standard dengan kepunyaan Honda Beat (Beat versi karburator) yang kira-kira lebih panjang 2-3 cm. Ganti juga per penariknya dengan yang lebih pendek dan lebih keras, penulis memakai punya Yamaha entah seri apa.

Standar Samping diganti milik Honda Beat karbu

Standar Samping diganti milik Honda Beat versi karbu

Hasil setelah standard samping diganti dengan punya Honda Beat, tidak terlalu miring lagi, seperti gambar berikut:

Posisi motor setelah standar samping diganti lebih panjang

Posisi motor setelah standard samping diganti lebih panjang, terlihat dan terasa pas.

Perbandingan kemiringan dengan yang menggunakan standard bawaan, (garis kuning merupakan garis bantu untuk membandingkan, ditarik dari ujung spatbor melewati ujung lampu rem):

Kiri: memakai standard Honda Beat, Kanan: standard bawaan

Kiri: memakai standard Honda Beat, Kanan: memakai standard bawaan

Dua hal terakhir dari penulis mungkin tentang performa mesin dan bagasi.

6. Bila warming-up  (pemanasan) terlalu singkat atau tanpa warming up, mesin terasa berat di menit menit pertama, tidak tahu apa istilahnya, di daerah penulis disebut “mejen”/”loyo”/”mbrebet”, sedangkan kalau dipaksa “digas” maka akan terjadi lonjakan kecepatan yang tidak linier, sehingga mengagetkan pengendara bahkan mungkin membahayakan. Memang, hal ini mungkin terjadi karena pembakaran belum sampai pada suhu optimum, tetapi kalau pasokan bahan bakar ditambah pada suhu dingin ini tentu gejala tersebut juga tidak akan muncul sehingga lebih nyaman digunakan. Mungkin perlu modifikasi ECU oleh Honda supaya menyemprotkan bahan bakar sedikit lebih banyak ketika mesin masih dingin.

7. Kemudian tentang bagasi, ruangan bagasi ini akan terasa PANAS karena berada di atas mesin langsung. Janganlah memasukkan cokelat atau es krim ke dalam bagasi Honda Vario ini, dijamin akan lumer dalam perjalanan beberapa waktu. Panas ini mungkin cukup kuat untuk merusakkan HP atau tablet atau laptop jika dimasukkan ke dalam bagasi dalam perjalanan yang cukup lama. Mungkin Honda perlu memikirkan penambahan insulator panas di bagian bawah bagasi untuk melindungi muatan dalam bagasi ini dari kepanasan.

___________

NB, hasil daripada prakarya kecil-kecilan:

1. Saklar lampu MHO – Manual Headlight On (aslinya milik Honda Revo), aksi kecil peduli lingkungan, mengurangi laju pemanasan global/penghematan bahan bakar (gambar di bawah). Lampu bisa dimatikan bila berkendara bukan di jalan raya.

2. Tombol Stop Engine (dalam gambar warna kuning) memakai tombol starter umum (aslinya milik vario, supra, shogun, dll), ditambah rangkaian relay 5 kaki (yang ber-87a) karena fungsinya untuk memutus arus. Kabel dipasang secara seri dengan kabel pemutus arus di standar samping warna putih strip hijau (lebih dekat memotong yang di dekat ECM). Bila memakai saklar model On-Off maka tidak diperlukan relay.

Memakai tombol model starter karena penulis ingin posisi tombol stop engine yang langsung balik. Cukup bermanfaat pada saat menunggu lama lampu merah atau di perlintasan kereta dan semacamnya.

Sebenarnya memungkinkan untuk membuat tombol starter asli bawaan motor (gambar warna hitam) menjadi dual fungsi untuk menghidupkan sekaligus mematikan mesin, tetapi aplikasinya cukup rumit dan memakan biaya yang lebih banyak, jadi penulis membuat versi sederhana saja dengan menggunakan tombol tambahan.

Saklar lampu manual dan tombol Stop Engine

Saklar lampu manual dan tombol Stop Engine

3. Membuat saklar lampu “dim” menggunakan tombol saklar lampu sein (reting), menggunakan mekanisme pencet untuk menghidupkan saklar dim, sedikit tambahan alat dan modifikasi di badan saklar sein seperti terlihat pada gambar di bawah ini (sebelum ditutup dengan plastik steel):

Saklar flash lampu jauh (dim) di bodi saklar sein.

Saklar flash lampu jauh (dim) di bodi saklar sein.

Jadi yang digunakan adalah mekanik dorongnya saja untuk mendorong tuas saklar kecil (lingkaran kuning). Diperlukan satu buah relay 4 kaki supaya arus lampu besar tidak perlu melewati saklar kecil ini, serta relay 5 kaki untuk memutus lampu dekat ketika melakukan “dim”. Hasilnya tombol push (tekan) pada saklar sein menghidupkan dim. Memuaskan!

4. Flasher diganti type “Sound Flasher”, akan bunyi “tiiit-tiiit-tiiit” cukup keras ketika di-“reting” (menghidupkan lampu sein), meningkatkan keselamatan berkendara dalam hal meningkatkan “awareness” atau kewaspadaan pengguna jalan lain, ditambah lagi pengendara tidak akan pernah lupa untuk mematikan lampu sein, dijamin! Biaya cukup 15 ribu saja.

Sound Flasher

Sound Flasher

Sekian dulu dari penulis, kalau ada pembaca yang ingin share tentang kelemahan atau keunggulan dari motor ini, silakan tulis di kolom komentar, supaya pengguna dan calon pengguna lainnya bertambah wawasannya.

Semoga bermanfaat dan salam rider!